Lebaran Sudah Tiba!
Siapa yang merasa bahagia menyambutnya?
Tentu, di hari raya lebaran ini akan menjadi momen membahagiakan yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang yang beragama islam. Karena saat lebaran tiba, semua orang akan berkumpul bersama keluarga. Biasanya orang-orang akan sibuk pergi berkunjung ke sanak keluarga untuk saling meminta maaf dan berbincang satu sama lainnya.
Tetapi, tidak jarang momen berkumpul tersebut bisa memunculkan perasaan emosi dalam diri seseorang loh. Kenapa bisa begitu? Karena saat berkumpul, pasti ada saja pertanyaan-pertanyaan menyebalkan yang diajukan seperti “Kapan lulus?”, “Kapan kerja?”, dan “Kapan nikah?”. Ketiga pertanyaan itulah yang menjadi musuh bagi kalangan muda dan membuat antusiasme untuk merayakan lebaran kian menurun.
Seringkali emosi yang muncul ialah perasaan marah dari dalam diri seseorang yang menerima pertanyaan, seperti mahasiswa akhir, pencari kerja, dan juga dewasa usia matang. Perasaan marah sendiri bisa dipahami sebagai reaksi perasaan tekanan, yang dimana seseorang cenderung menjadi marah jika harus menghadapi keadaan yang mengganggu.
Akibat dari perasaan marah pada kalangan muda tentu akan berdampak pada mental dirinya dan hubungan sosial mereka. Dampak mental yang dirasakan seringkali akan meningkatkan stres dan kecemasan dalam diri kalangan muda, sedangkan dampak hubungan sosial yang dirasakan terdapatnya hambatan dalam berinteraksi yang dikarenakan rasa tidak nyaman sehingga seseorang akan menghindari kegiatan berkumpul saat lebaran. Pasti pernah merasakan ini bukan?
Jika kamu merasakan dampak akibat dari emosi, kamu bisa melakukan konseling psikologi agar kamu bisa memahami emosi yang ada pada diri kamu dan membantu kamu dalam proses pengungkapan perasaan terutama pada perasaan marah. Simak terus artikel ini sampai habis untuk mendapatkan informasi lengkapnya.
Karena sudah dipastikan saat mendapat pertanyaan sensitif, masing-masing kalangan muda akan mengungkapkan perasaan marahnya dengan berbeda satu sama lain. Seperti di satu sisi, lebih memilih untuk memendam perasaan marahnya dan di satu sisi lainnya, akan mengungkapkan perasaan marahnya.
Memendam perasaan yang dirasakan seseorang biasanya akan cenderung ditekan ke dalam dirinya tanpa mengekspresikannya ke luar, seperti memilih lebih diam saja saat mendapat pertanyaan. Sedangkan yang mengungkapkan perasaannya biasanya akan lebih mengontrol dirinya dengan bersikap positif, seperti menjawab pertanyaan dengan meminta bantuan doa agar dimudahkan segala urusannya.
Tetapi, satu hal yang harus kamu ketahui, memendam perasaan akan jauh lebih sakit dibandingkan dengan mengungkapkannya. Kenapa? Karena dengan kamu terus memendam perasaanmu terutama pada emosi, nantinya emosi itu akan menjadi sulit dikendalikan dan sewaktu-waktu bisa meledak dengan cara yang tidak terduga. Tentu, hal ini akan sangat berdampak pada kesehatan mental kamu yang semakin mengalami peningkatan dan akhirnya juga akan berdampak menurunnya kesehatan fisik kamu.
Jadi, jangan biarkan perasaan marah dan kesal hati yang didapatkan dari orang lain menguasai diri seseorang dan akan membuat hubungan dengan orang terdekat menjadi renggang di hari yang penuh kebahagiaan tersebut. Bagaimana caranya?
Salah satu cara agar terhindar dari munculnya emosi yaitu dengan menahannya sebaik mungkin melalui teknik pernapasan dalam seperti menghirup napas dan mengeluarkannya secara perlahan berulang kali untuk membuat dirinya akan merasa tetap rileks dan bersikap positif saat memberi respon serta dapat menjaga kesehatan fisik yang lebih baik, seperti terhindarnya resiko tekanan darah tinggi. Menenangkan diri sebelum memberikan respon juga dapat membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan.
Seseorang yang dapat menahan diri dari emosi dapat memungkinkan dirinya untuk berpikir lebih jernih dalam menghadapi situasi yang terdapat emosi, seperti meningkatnya kepercayaan diri dalam memberikan respon yang positif terhadap pertanyaan sensitif tersebut tanpa khawatir akan terjadinya kedekatan yang renggang dengan orang lain.
Selain itu, seseorang juga bisa melakukan konseling terlebih dahulu pada ahli yang berpengalaman untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut dalam mengenai keseimbangan emosi. Perlu diketahui, keseimbangan emosi merupakan satu hal yang sangat penting untuk setiap orang. Dalam kamus psikologi keseimbangan emosi disebut dengan emotional stability yaitu karakteristik yang dimiliki seseorang dalam mengontrol emosional yang baik serta emotional maturity yaitu satu keadaan pada diri seseorang mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional.
Dengan melakukan konseling, seseorang bisa menjadi individu yang lebih siap secara mental. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang, dimana konselor melalui hubungan ini akan memberikan bantuan berdasarkan kemampuan-kemampuan yang dimiliki.
Seseorang dapat mengikuti konseling melalui psikolog maupun peer counselor. Peer counselor merupakan teman sebaya yang akan dengan senang hati mendengarkan keluh kesah tanpa menjudge. Biasanya, konseling dengan peer counselor bisa lebih nyaman karena merasa bahwa kita hanya sedang curhat dengan teman, tidak perlu takut jika cerita akan diketahui orang lain, karena setiap orang yang melakukan konseling privasi kita akan selalu terjaga dengan baik. Tertarik?
Mari ambil langkah pertama kamu untuk mengetahui lebih lanjut mengenai emosi terutama perasaan marah dan kesal hati serta cara untuk menahan emosi, dengan kamu bisa langsung menghubungi kami dan segera melakukan pendaftaran di website kami https://berbinar.in/counseling serta tentukan sendiri pilihan konselor untukmu!
Bagaimana cara mendaftarnya?
-
Mengisi formulir pendaftaran melalui https://berbinar.in/counseling/reg/layanan
-
Lakukan pembayaran ke rekening bank yang tertera
-
Tunggu konfirmasi dan informasi selanjutnya dari admin.
Sangat mudah bukan? Segera daftarkan dirimu ya!
Sumber Referensi:
Berkowitz, L. (1993). “Aggression: Its Causes, Consequences, and Control.” New York: McGraw-Hill Book Company.
Kroner, D, G., & Reddon, J, R. (2015). “The Anger Expression Scale and State-Trait Anger Scale: Stability, Reliability and Factor Structure in an Inmate Sample.” Social Science Collections.
Lazarus, R.S., & Folkman, S. (1984). “Stress, Appraisal, and Coping.” Springer Publishing Company
Belum ada komentar.