Teknologi

Pengungkapan Diri Di Era Digital: Bagaimana Media Sosial Dapat Mempengaruhi Self-Disclosure?


cover
writer profile Nisrina Khairunnisa 02 June 2025

Siapa yang kesehariannya selalu membuka media sosial? Ternyata kegiatan itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang, terutama pada usia muda loh.

Setiap kali membuka aplikasi dan melakukan scrolling postingan baik yang berbentuk feed maupun story mulai dari Instagram, Twitter, Facebook, hingga Whatsapp, kita bisa mengetahui semua informasi terbaru di negara sendiri serta luar negeri.

Berdasarkan hasil survei dari We Are Social pada bulan April 2025, penggunaan media sosial di perangkat Android masih menunjukkan kepopuleran tiga platform yaitu TikTok, YouTube, dan Instagram dengan rata-rata waktu hingga 1.35 jam dalam satu hari. Selain itu, tiga platform lainnya yang juga cukup populer yaitu Facebook, WhatsApp, serta X memiliki waktu harian pengguna dengan rata-rata 28 menit hingga 1.4 jam.

Melalui media sosial kita juga bisa membagikan kegiatan yang sedang dilakukan, seperti berolahraga jogging setiap pagi di hari minggu, gym setelah pulang kerja pada malam hari, menikmati obrolan bersama teman di kafe favorit, atau hanya sekedar update pencapaian terbaru.

Hal ini terlihat dari hasil polling yang dilakukan di Instagram Story Berbinar pada 17-18 Mei 2025, menunjukan bahwa 75% pengguna media sosial membagikan cerita berbentuk aktivitas harian dan 25% pengguna lainnya membagikan cerita dari pencapaian yang telah diraihnya.

Salah satu alasan yang mendorong orang-orang berbagi cerita aktivitas harian serta pencapaian adalah adanya keinginan untuk menunjukkan keaslian dan realitas kehidupannya. Sebagian orang akan menganggap berbagi cerita di media sosial terutama pada kedua momen itu merupakan sesuatu yang penting.

Media sosial dapat dipahami sebagai suatu platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya. Beberapa aktivitas yang sering dilakukan di media sosial, yaitu melakukan interaksi terhadap konten tertentu dengan berbagai informasi didalamnya yang dapat terbuka untuk semua pengguna selama 24 jam penuh.

Menurut pendapat para ahli yaitu Dave Kerpen, dalam bukunya yang bertajuk Likeable Social Media yang terbit pada tahun 2011 mengemukakan bahwa media sosial memiliki definisi sebagai suatu tempat kumpulan gambar, video, tulisan, hingga hubungan interaksi dalam jaringan baik itu antar individu maupun antar kelompok seperti organisasi.

Pada hasil polling Instagram Story Berbinar menunjukkan bahwa pengguna media sosial cenderung lebih sering mengunggah momen dalam bentuk foto, video, ataupun keduanya. Hal ini terlihat dari 60% pengguna yang merasa bahwa unggahan berbentuk foto, dikarenakan dengan melalui potret, seseorang dapat merepresentasi visual langsung dari momen tertentu yang juga mencerminkan ekspresi kreativitas.

Selain itu, unggahan dalam bentuk video juga menjadi salah satu bentuk cerita yang memungkinkan pengguna nya membagikan suatu momen secara lebih rinci dan hidup dengan melalui ekspresi dan suara yang ditampilkan. 30% pengguna media sosial menganggap bahwa video yang dibagikan di media sosial dapat menarik lebih banyak interaksi.

Serta, beberapa pengguna media sosial lainnya mengunggah keduanya agar lebih terlihat bervariatif dengan menunjukkan detail visual disertai suasana yang juga lebih autentik. 10% pengguna merasa percaya diri dengan unggahan dalam bentuk foto dan video dapat memaksimalkan visibilitas dan keterlibatan di platform tersebut.

Seiring kemudahan dalam membagikan cerita sehari-hari, kita seringkali lupa bahwa setiap postingan itu termasuk pada bentuk self-disclosure atau pengungkapan diri dapat mempengaruhi cara kita akan dipandang oleh orang lain yang menimbulkan perasaan di antara lebih terhubung dan juga lebih terasing.

Menurut hasil polling Instagram Story Berbinar, 85% pengguna hanya merasakan netral di antara perasaan nyaman dan tidak nyaman setelah berbagi cerita di media sosial. Perasaan ini biasanya muncul ketika tanggapan yang diterima tidak terlalu berkesan untuk dirinya sendiri. Salah satu tanggapan yang membuat seseorang merasa biasa saja bisa terlihat dari pemberian like yang tidak disertai komentar.

Jika seseorang merasa netral saat mendapat tanggapan dari orang lain terhadap unggahan ceritanya, memungkinkan dirinya untuk tetap konsisten dalam cara berbagi cerita dan tidak akan terlalu berpengaruh terhadap tren di media sosial ataupun ekspektasi dari orang lain. Namun, tidak menutup kemungkinan juga dirinya juga merasa tidak semangat untuk berinteraksi dengan orang lain seperti merespon komentar yang telah didapatkannya.

Selain itu, terdapat 50% pengguna akan merasakan lebih nyaman saat mendapat tanggapan dari orang lain dengan pemberian like yang disertai komentar menyenangkan ataupun pesan pribadi secara langsung yang mendukung. Biasanya, seseorang akan lebih merasa percaya diri dalam memberikan respon pada orang lain seperti dengan membalas komentar dan memulai untuk saling berbalas pesan pribadi.

Serta terdapat pula 50% pengguna lainnya yang tidak merasa nyaman, dikarenakan tanggapan yang bagi dirinya tidak sesuai dengan yang diharapkannya bisa menimbulkan kecemasan dan stress. Sehingga akan memungkinkan seseorang menjadi lebih jarang dalam berbagi cerita pribadi di media sosial.

Jika kamu merasa relate dengan perilaku self-disclosure di media sosial bisa sangat berpengaruh di kehidupanmu, kamu bisa mengurangi aktivitas tersebut dengan bermain kartu loh. Penasaran? Simak terus artikel ini sampai habis ya.

Self-disclosure atau pengungkapan diri dapat bersifat deskriptif atau evaluatif. Pengungkapan diri deskriptif adalah ketika seseorang memaparkan berbagai fakta tentang dirinya yang mungkin belum diketahui oleh pendengarnya, seperti pekerjaan, tempat tinggal, dan lain-lain. Pengungkapan diri yang evaluatif artinya seseorang mengungkapkan pendapat atau perasaan pribadinya, seperti menyukai orang tertentu, merasa cemas karena terlalu gemuk, tidak ingin bangun pagi, dan lain-lain.

Menurut Papu tahun 2002, pengungkapan diri adalah pemberian informasi tentang diri sendiri kepada orang lain. Informasi ini dapat mencakup banyak hal seperti pengalaman hidup, perasaan, emosi, pendapat, cita-cita, dan sebagainya.

Sedangkan, menurut Karina dan Suryanto tahun 2012, pengungkapan diri merupakan kesediaan individu untuk secara sukarela dalam mengungkapkan informasi yang bersifat diri sendiri kepada orang lain dalam rangka mengembangkan kedekatan (intimacy) terhadap lawan interaksinya.

Biasanya self-disclosure atau pengungkapan diri akan mengacu pada tindakan berbagi informasi tentang diri sendiri kepada orang lain yang biasanya tidak sering diungkapkan. Selain itu, self-disclosure juga dapat melibatkan keputusan individu untuk membuka pikiran, perasaan, dan pengalaman masa lalunya pada orang lain. Salah satu contohnya dapat terlihat dari semakin individu saling membuka diri pada pasangannya, maka akan semakin intim suatu hubungan.

Self-disclosure akan tepat menjadi bagian dari hubungan interpersonal yang sedang berlangsung, dengan adanya timbal balik yang dapat menciptakan kepercayaan, kepedulian, komitmen, pemahaman, dan penerimaan diri, serta pertumbuhan pribadi dan juga persahabatan.

Manfaat dari self-disclosure terutama bagi remaja dan usia muda dapat melepaskan rasa kesepian, jika hal-hal pribadi yang diungkapkan dapat diterima orang lain. Self-disclosure pada diri seseorang akan merasakan bahwa ia telah memiliki tempat untuk bercerita.

Melalui self-disclosure, seseorang dapat mengenal diri sendiri dan menanggulangi permasalahan yang cukup sulit diselesaikan secara mandiri jikalau tanpa adanya masukan dari orang lain. Selain itu, self-disclosure juga dapat meningkatkan keakraban antara individu yang dilandasi kepercayaan dan kejujuran.

Namun, self-disclosure melalui media sosial ternyata dapat berpengaruh negatif bagi seseorang dengan beberapa resiko yang bisa saja membahayakan seperti tanpa disadari sudah terlalu oversharing dengan memberikan informasi-informasi bersifat pribadi, salah satu contohnya adalah lokasi serta kondisi rumah.

Hal itu terlihat dari beberapa orang dapat dengan mudah memberikan lokasi rumah yang mereka tinggali walaupun tidak spesifik. Begitu juga dengan kondisi rumah yang menunjukan bahwa dirinya tinggal sendiri, terlebih bagi usia muda baik itu mahasiswa atau pekerja rantau.

Selain itu, self-disclosure juga dapat merasa ketergantungan terhadap respon yang diberikan orang lain mengenai setiap unggahan media sosial dengan selalu berharap adanya timbal balik dari orang lain, baik itu dalam bentuk likes, comment, ataupun share sebagai bentuk validasi sosial.

Dengan membuka informasi tentang kegiatan yang sedang dilakukan oleh sebagian orang tersebut, terutama melalui unggahan foto sebagai bentuk pesan non-verbal, akan membuat dirinya cenderung merasa egois dan semakin narsis jika hal itu berhubungan pada prestasi didapatkan dan gaya hidup kesehariannya.

Seseorang yang merasakan narsis setelah melakukan self-disclosure di media sosial akan mengalami peningkatan percaya diri dan kecintaan yang berlebih terhadap diri mereka sendiri. Hal itu akan membuat dirinya sulit untuk menerima perasaan orang lain.

Jika kamu merasa sudah terlalu sering melakukan self-disclosure di media sosial dengan banyaknya informasi yang dibagikan terutama mengenai dirimu sendiri, kamu bisa loh berhenti sejenak dari aktivitas tersebut.

Salah satu cara paling ampuh untuk mengalihkan pikiran mu dari media sosial yaitu bisa dengan bermain kartu EmoShuffle. Kartu ini bisa kamu mainkan bersama dengan teman-temanmu sembari saling mengungkapkan perasaan satu sama lainnya loh.

Melalui permainan kartu EmoShuffle, kamu bisa menjawab pertanyaan, melakukan aksi, hingga membaca kutipan seputar psikologis dalam diri untuk meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental dan melakukan refleksi emosional yang akan menahan perilaku berlebih saat menggunakan media sosial.

Jangan tunggu penyesalan datang dahulu, baru kamu berhenti curhat di media sosial. Dapatkan kartu EmoShuffle ini dengan pembelian secara langsung di beberapa e-commerce seperti Shopee ataupun Tokopedia dan kamu juga bisa mengunjungi website kami https://berbinar.in/produk/emo-shuffle untuk informasi lengkapnya.

Sumber Referensi:

We Are Social. “Digital 2025 April Global Statshot Report.” dalam https://wearesocial.com/id/blog/2025/04/digital-2025-april-global-statshot-report/ yang diakses pada tanggal 19 Mei 2025, pukul 14:02 WIB.

Wira Yudha Alam S.IP, et al. (2023). “Sosial Media Dan Strategi Pemasaran.” Mega Press Nusantara

Siska, Falina, et al. (2024). “Personality Development.” Jakarta: Publica Indonesia Utama

Gainau, Maryam B. (2015). “Perkembangan Remaja Dan Problematikanya.” Yogyakarta: PT Kanisius

Budiargo, Dian. (2015). “Berkomunikasi Ala Net Generations.” Jakarta: PT. Elex Media Kompetindo

Tanggapan & Komentar

Komentar (0)

Komentar (1)

Belum ada komentar.