Tahukah kamu? Setiap orang memiliki gaya unik yang mencerminkan kepribadian, selera, dan bahkan perjalanan hidup mereka. Perlu diketahui, gaya tersebut bukanlah sesuatu yang harus selalu mengikuti tren, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Fashion bukan hanya tentang pakaian yang dikenakan saja, tetapi bisa menjadi cara untuk mengekspresikan diri. Hal ini bisa terlihat dari segi potongan pakaian hingga aksesoris yang dipilih sebagai pelengkap akan menunjukan bahwa setiap elemen dari fashion memiliki potensi untuk memperkuat rasa percaya diri.
Berdasarkan hasil survei GoodStats pada tahun 2024, persepsi generasi muda terhadap fashion cukup tinggi dan berperan penting dalam membentuk kepercayaan diri seseorang. Sebanyak 58,2% generasi muda merasa fashion merupakan aspek penting dalam kehidupan seseorang yang mencerminkan bahwa penampilan berkontribusi terhadap rasa percaya diri.
Selain itu, 40,4% generasi muda lainnya merasa fashion sangat penting untuk menunjukan gaya berpakaian menjadi bagian menyeluruh dari identitas dan keyakinan seseorang. Serta, hanya 1,4% generasi muda yang menganggap fashion tidak penting dengan menunjukan bahwa seseorang tidak menjadikan penampilan sebagai prioritas dalam membangun kepercayaan diri.
Fashion bisa menjadi bahasa non-verbal yang dapat mengungkapkan siapa kita hingga mempengaruhi bagaimana kita merasakan diri kita sendiri. Secara etimologi, dalam Oxford English Dictionary, kata fashion berasal dari bahasa latin yaitu factio yang berarti membuat atau melakukan dan facere (berdasarkan kata ‘faksi’ dengan arti politis) menjadi fatere yang juga berarti sama yaitu membuat atau untuk melakukan.
Sedangkan secara terminologi, masih dalam Oxford English Dictionary telah menyusun beberapa arti berbeda dari kata fashion. Mulai dari bermakna tindakan atau proses membuat, potongan atau bentuk tertentu, bentuk melalui cara atau sikap, hingga penggunaan konvensional dalam berpakaian.
Beberapa arti dari kata fashion dikelompokkan menjadi dua arti yaitu kata benda dan kata kerja. Fashion sebagai kata benda, memiliki makna sesuatu seperti jenis dan macam, merek atau bentuk tertentu. Sedangkan, fashion sebagai kata kerja memiliki arti kegiatan membuat atau melakukan.
Salah satu aspek penting yang berkaitan erat dengan fashion adalah self-confidence atau kepercayaan diri. Menurut Anthony, berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang dapat menerima kenyataan, mengembangkan kesadaran diri, berpikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkan. Selain itu, kepercayaan diri juga merupakan keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan dan merasa puas terhadap dirinya.
Hasil dari sebuah penelitian terutama pada mahasiswa menunjukan bahwa 91,9% mahasiswa merasa fashion yang dikenakan berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan diri seseorang. Sedangkan, 8,1% mahasiswa lainnya merasa fashion tidak berpengaruh atau bersifat netral terhadap kepercayaan diri seseorang.
Terdapat aspek-aspek fashion yang paling mempengaruhi self-confidence menurut mahasiswa di antaranya meliputi 70,3% mengenai kenyamanan pakaian, 48,6% mengenai model pakaian, 24,3% mengenai warna pakaian, serta 8,1% mengenai brand atau merek pakaian. Hal ini menegaskan bahwa dalam membangun kepercayaan diri, mahasiswa lebih mengutamakan kenyamanan dan tampilan pakaian daripada mereknya.
Kamu sering merasa lebih percaya diri dengan pakaian yang kamu kenakan? Ternyata fashion memiliki kekuatan luar biasa untuk meningkatkan rasa percaya diri. Bagaimana itu bisa terjadi? Simak artikel ini sampai habis ya!
Self-confidence atau kepercayaan diri dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Pada faktor internal, kepercayaan diri seseorang bisa terbentuk diawali dengan perkembangan konsep diri yang diperoleh dalam pergaulannya di suatu kelompok, salah satunya berasal dari interaksi yang terjadi. Konsep diri seseorang yang positif akan membentuk harga diri yang juga positif. Harga diri adalah penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. Menurut Santoso, berpendapat bahwa tingkat harga diri seseorang akan mempengaruhi tingkat kepercayaan diri seseorang.
Selain itu, kondisi fisik dan jenis kelamin seseorang juga dapat berpengaruh terhadap kepercayaan diri seseorang, hal ini terlihat dari perubahan kondisi fisik dan peran jenis kelamin yang disandang oleh budaya terhadap kaum laki-laki dan perempuan memiliki efek tersendiri terhadap perkembangan kepercayaan diri, seperti perempuan yang cenderung harus dilindungi, sedangkan laki-laki mampu melindungi.
Menurut para ahli, membangun rasa percaya diri merupakan proses yang melibatkan keyakinan pada kemampuan diri sendiri, keberanian untuk mengambil resiko, serta kemampuan untuk mengatasi hambatan dan tantangan. Menurut Nathaniel Branden, seorang psikolog dan penulis asal Amerika Serikat, berpendapat bahwa rasa percaya diri merupakan hasil dari pengakuan dan penerimaan terhadap diri sendiri. Menurut Branden, seseorang perlu menghargai dan mencintai dirinya sendiri sebelum bisa membangun rasa percaya diri yang kuat.
Salah satu cara dalam meningkatkan rasa percaya diri pada seseorang bisa terlihat dari pemilihan pakaian yang cocok dengan diri sendiri sesuai dengan tubuh dan kepribadiannya. Pada penggunaan pakaian, seseorang bisa terlebih dahulu melihat jenis aktivitas yang akan dilakukan. Selain itu, warna pakaian juga dapat meningkatkan mood. Serta, dengan menambah aksesoris akan memberikan penampilan seseorang akan lebih menarik perhatian.
Seiring waktu berjalan, perubahan pada pilihan pakaian dapat mencerminkan perubahan kepribadian, prioritas, maupun pandangan hidup seseorang. Ketika seseorang bereksperimen dengan gaya berpakaian yang berbeda dari biasanya, hal ini bisa menjadi cara untuk mengeksplorasi sisi baru dari dirinya. Gaya berpakaian yang berubah seringkali sejalan dengan fase kehidupan baru seperti perubahan karir melalui gaya yang lebih formal saat memasuki dunia kerja profesional.
Namun, terkadang keraguan diri datang saat berpakaian, seakan pilihan tersebut tidak cukup mengekspresikan diri seseorang. Ketika seseorang merasa ragu atau tidak percaya diri dengan penampilan, hal ini seringkali mencerminkan rasa kurang nyaman dengan diri sendiri, sehingga seseorang cenderung lebih sering bertanya pada dirinya mengenai bagaimana orang lain akan menilai pakaian yang dipilih tersebut.
Terdapat cara efektif untuk mengatasi keraguan itu, dengan mencoba belajar untuk menerima diri sendiri dan lebih berani mengekspresikan diri melalui pakaian tanpa takut akan penilaian orang lain. Karena seseorang akan lebih merasa nyaman dan kepercayaan diri luar biasa yang memungkinkan untuk tampil autentik dan penuh gaya.
Jangan takut untuk tampil berbeda, kepercayaan diri datang ketika seseorang memilih untuk mengikuti gaya berpenampilan yang benar-benar mencerminkan dirinya. Jika kamu masih merasa sulit menemukan pakaian sesuai dirimu, kamu bisa coba memakai pakaian sederhana seperti MoodScan Tees.
Kalau kamu ingin tahu, MoodScan Tees merupakan kaos nyaman dengan desain psikologis hasil kolaborasi ciamik Berbinar X Esize loh. Desain psikologi pada kaos ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mental sekaligus menciptakan gaya unik dan penuh makna, dengan barcode QR berisikan berbagai kutipan psikologis inspiratif yang akan memberikan refleksi diri.
Sudah siap meningkatkan kepercayaan diri melalui gaya berpakaian? Kini saatnya kamu tampil beda dengan kaos yang dapat menginspirasi orang lain melalui edukasi psikologi. Segera dapatkan kaos nya dengan pembelian secara langsung di e-commerce seperti Tokopedia atau kunjungi website https://berbinar.in/produk untuk informasi lengkapnya.
Sumber Referensi:
Fadhilah, Najwa Putri. (2024). “Simak Pilihan Fashion Anak Muda Indonesia 2024.” dalam https://goodstats.id/article/simak-pilihan-fahion-anak-muda-indonesia-uvo3N yang diakses pada tanggal 19 Juni 2025, pukul 11.45 WIB.
Malcolm Barnard. (2011). “Fashion Sebagai Komunikasi.” Yogyakarta: Jalasutra.
M. Nur Ghufron, dkk. (2010). “Teori-Teori Psikologi.” Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Damaruci & Harry Wiyanto. (2025). “Self Awareness First, Then Self Confidence ‘Self Confidence: The Foundation Of Life Skill Intelligence.” Penerbit KBM Indonesia.
Sholikhah, Siti Mar’atus. (2020). “Penggunaan Outfit Terhadap Rasa Percaya Diri Mahasiswa Pendidikan Semester 7.” Al-Qalb: Jurnal Psikologi Islam, 11.1.
Belum ada komentar.