Siapa yang sering merasa canggung dengan pencapaian diri sendiri, terutama di hadapan rekan kerja, mengingat posisi kamu yang masih sebagai karyawan baru? Biasanya, perasaan itu muncul pada seseorang yang baru saja lulus, namun memiliki tekad dan semangat tinggi dalam menyelesaikan pekerjaan.
Tidak jarang, pencapaian itu juga bisa datang dari karyawan muda lainnya yang telah bekerja beberapa waktu, namun dirinya menganggap hal tersebut hanya sebuah kebetulan dengan kesesuaian pengalaman yang dimiliki sebelumnya. Tahukah kamu? kalau ternyata perasaan tersebut termasuk dalam fenomena imposter syndrome, loh.
Survei ilmiah terbaru secara global mencatat bahwa lebih dari 70% orang pernah mengalami imposter syndrome. Fenomena ini sudah sangat umum dialami, terutama oleh generasi muda yang hidup di era digital saat ini, dengan tekanan media sosial dan budaya kerja kompetitif.
Imposter syndrome atau dalam bahasa Indonesia berarti sindrom penipu menggambarkan individu berprestasi tinggi yang terlepas dari keberhasilan objektif, gagal menginternalisasi pencapaian, memiliki keraguan yang terus-menerus, serta rasa takut akan terekspos sebagai seorang penipu.
Fenomena sindrom ini pertama kali dikenalkan dua psikolog yaitu Pauline Rose Clance dan Suzanne Imes pada tahun 1978, dengan mengidentifikasikan bahwa keberadaannya banyak dijumpai pada wanita cerdas dan berprestasi tinggi. Namun, tidak menutup kemungkinan sindrom itu juga dapat ditemui pada pria. Banyak penelitian baru yang menunjukan bahwa perasaan ketidakmampuan ini hadir di antara pria dan wanita berbagai lingkungan profesional.
Salah satu data menyebutkan bahwa sekitar 25% hingga 30% orang yang berprestasi tinggi seringkali mengalami imposter syndrome. Hal ini sangat relevan untuk karyawan muda yang baru saja memasuki dunia kerja dan berusaha untuk membuktikan keahlian diri.
Seseorang yang mengalami sindrom penipu akan merasa bahwa dirinya adalah seorang penipu dari kesuksesan dengan orang lain yang akan segera menangkap basah dirinya, serta tidak peduli hasil itu berasal dari jerih payahnya. Pada sindrom ini, seseorang akan selalu dihantui perasaan takut bahwa suatu saat semua kesuksesan itu akan dicabut dari dirinya.
Di dunia kerja profesional muda tentu tingkat persaingan di antara karyawan sangat tinggi. Sebagian orang atau bahkan hampir semua orang berekspektasi terhadap kinerja diri sendiri menjadi lebih dituntut dengan kualitas terbaik dan sering merasa takut bahwa rekan kerja atau atasan akan menyadari kekurangan yang dimilikinya.
Pada karyawan muda, terutama gen z, terdapat beberapa survei yang menunjukan bahwa salah satu faktor terkuat pemicu imposter syndrome adalah saat menghadapi tekanan kerja dan stres yang tinggi. Sebanyak 56% sudah berencana untuk pindah kerja dan 54% hingga 77% yang lain berpikir untuk berhenti kerja yang bisa berkaitan dengan perasaan tidak percaya diri dan stres di tempat kerja tersebut.
Jika kamu ingin mengetahui lebih lanjut mengenai imposter syndrome yang terjadi di sekitarmu dan cara untuk menghadapinya, kamu bisa ajukan ke perusahaan untuk melakukan consulting yang akan membantu terciptanya lingkungan kerja suportif. Informasi lebih lanjut bisa kamu dapatkan di akhir artikel. Jadi, Baca artikel ini sampai habis ya.
Menurut Chrisman pada tahun 1995, imposter syndrome memiliki tiga aspek yang menunjukan bahwa seseorang sedang mengalami fenomena ini yaitu palsu, keberuntungan, serta diskon. Ketiga aspek tersebut mengacu pada rasa percaya diri seseorang yang berbeda-beda terhadap setiap pencapaian nya.
Pada aspek diskon bisa dikatakan sebagai gabungan antara aspek palsu dan keberuntungan, sehingga seseorang akan cenderung meremehkan pentingnya kesuksesan yang telah diraih dan mengabaikan pujian yang diterimanya. Dirinya merasa kurang percaya diri terhadap kemampuan bakat atas keberhasilannya, sehingga menganggap hanya keberuntungan.
Contoh perilaku seseorang saat mengalami imposter syndrome dengan menyangkal bukti objektif yang sebenarnya menunjukan bahwa dirinya kompeten akan selalu merendahkan pujian dari orang lain dengan mengatakan “Saya rasa saya hanya beruntung saja bisa berhasil saat ini”. Hal ini dikarenakan dirinya merasa tidak mampu menerima umpan positif tersebut.
Dampak negatif dari fenomena imposter di antara lain adalah terdapatnya tekanan psikologis yang akan dirasakan seseorang berupa emotional burnout atau kelelahan emosi yang dapat menyebabkan penurunan produktivitas melalui usahanya untuk mencegah pengerjaan tugas-tugas yang memiliki peluang bagus terhadap pencapaian.
Salah satu cara untuk mengatasi fenomena imposter syndrome yaitu seseorang dapat mengenali waktu di saat merasa curang dengan mengembangkan respon yang sehat terhadap kegagalan dan kesalahan yang dibuat melalui apresiasi diri, selalu mengingat bahwa kamu sudah bekerja keras sehingga berhasil mendapatkan posisi yang lebih unggul dari orang lain.
Selain itu, terdapat cara lainnya jika ternyata pada lingkup pekerjaan tanpa kamu sadari hampir semua rekan kerja kamu yang juga merasakan hal yang sama, kamu bisa memberikan rekomendasi untuk melakukan consulting perusahaan terutama pada penilaian kinerja karyawan.
Consulting merupakan layanan yang bertujuan untuk membantu suatu perusahaan dalam mengatasi masalah dan meningkatkan kinerja sumber daya manusia. Melalui consulting tentu akan berfokus pada peningkatan keterampilan dengan strategi jangka panjang yang disesuaikan kebutuhan perusahaan.
Dengan memilih penilaian kinerja, perusahaan dapat mengetahui proses evaluasi kinerja karyawan secara sistematis sebagai dukungan pengembangan karir. Penilaian kinerja akan membantu karyawan mengurangi keraguan saat bekerja, sehingga bisa lebih merasa yakin atas kemampuan dan harapannya dalam memenuhi standar perusahaan.
Dapatkan segera pelayanan consulting dari Human Resource yang berpengalaman untuk memaksimalkan potensi perusahaan, dengan langsung saja menghubungi kami dan segera melakukan pendaftaran di website kami https://berbinar.in/consulting-new
Bagaimana cara mendaftarnya?
-
Mengisi formulir pendaftaran melalui https://bit.ly/ConsultingBerbinar
-
Melakukan konfirmasi dari tim berbinar dan tunggu informasi selanjutnya
-
Tim berbinar menginformasikan ketersediaan jadwal
-
Lakukan pembayaran ke rekening bank yang tertera
-
Kirimkan bukti pembayaran pada tim berbinar untuk verifikasi
-
Tim berbinar mengirimkan jadwal yang telah ditentukan
Sumber Referensi:
Tracy, Brian., & Anies Lastiati. (2005). “Change Your Thinking Change Your Life: Bebaskan Potensi Dahsyat Anda untuk Kesuksesan yang Tak Terbatas.” Penerbit Kaifa.
Young, Dr. Valerie. “10 Steps You Can Use to Overcome Impostor Syndrom.” dalam https://impostorsyndrome.com/articles/10-steps-you-can-use-to-overcome-impostor-syndrome/ yang diakses pada 08 Mei 2025, pukul 11:50 WIB.
Clance, P. R. (1985). “Impostor Phenomenon: Overcoming The Fear That Haunts Your Success.” Peachtree Publisher, Ltd.
Chandra, Subani, et al. (2019). “Impostor Syndrome: Could It Be Holding You or You Mentees Back?.” Chest 156.1: 26-32.
Belum ada komentar.